Skor PISA 2025 Indonesia Rendah: 5 Hal Konkret yang Bisa Guru Lakukan di Kelas
Pada 8 September 2026, OECD merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 — dan kabarnya campur aduk. Skor membaca Indonesia naik 6 poin menjadi 365. Skor sains naik 6 poin menjadi 389. Skor matematika justru turun 2 poin menjadi 364. Asesmen yang diikuti 91 negara dengan lebih dari 760 ribu siswa sampel ini adalah yang terbesar sejak PISA pertama digelar tahun 2000.
Sekilas, ada alasan untuk tersenyum. Di tengah tren penurunan skor negara-negara OECD selama 25 tahun terakhir, skor Indonesia relatif stabil bahkan naik di dua domain. Tapi sebelum berpuas diri, ada baiknya kita membaca datanya dengan jujur — tanpa menghakimi guru, dan tanpa menutup mata pada pekerjaan rumah yang masih besar.
Membaca Data PISA 2025 dengan Jujur
Pertama, kabar baiknya perlu dibaca dengan catatan kaki. OECD sendiri menyatakan perubahan skor Indonesia — naik maupun turun — tidak signifikan secara statistik. Artinya, kenaikan 6 poin belum bisa disebut perbaikan yang mantap.
Kedua, jarak dengan rata-rata negara OECD masih lebar. Pada PISA 2025, rata-rata OECD tercatat 461 untuk membaca, 482 untuk sains, dan 463 untuk matematika. Indonesia masih tertinggal sekitar 96–100 poin di setiap domain.
Ketiga, capaian ini masih di bawah target pemerintah sendiri. RPJMN 2025–2029 menargetkan skor 396 untuk membaca, 404 untuk matematika, dan 416 untuk sains pada 2025. Ketiganya belum tercapai.
Namun ada satu konteks yang patut diapresiasi: coverage index Indonesia — proporsi anak usia 15 tahun yang bersekolah — melonjak dari 0,46 pada 2003 menjadi 0,90 pada 2025. Indonesia memperluas akses pendidikan hingga hampir dua kali lipat tanpa mengorbankan mutu secara drastis. Itu bukan prestasi kecil.
Di tingkat ASEAN pun pekerjaan rumah terlihat jelas: Indonesia masih di bawah Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Thailand, dan Malaysia di ketiga domain. Jarak dengan Malaysia memang menyempit, tetapi jarak dengan Thailand di sains justru melebar.
Bukan Soal Dedikasi Guru, Tapi Ekosistem
Menanggapi hasil ini, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengapresiasi kenaikan skor, tetapi mengingatkan pemerintah agar tidak cepat berpuas diri. P2G secara khusus menyoroti dua hal: perundungan di sekolah dan beban kerja guru.
Ini poin penting. Masalah literasi-numerasi Indonesia bukan soal guru yang tidak berdedikasi. Guru Indonesia dikenal gigih — banyak yang mengajar dengan sumber daya terbatas dan tetap bertahan. Masalahnya lebih struktural: beban administratif yang menyita waktu, jam tatap muka yang tergerus urusan non-pembelajaran, dan dukungan ekosistem yang belum merata.
Pemerintah kini mendorong pendekatan Pembelajaran Mendalam — dan di sinilah kabar baiknya: hal-hal yang paling berpengaruh terhadap skor seperti PISA justru berada dalam kendali guru di ruang kelas. Bukan kebijakan besar, melainkan praktik harian.
5 Hal Konkret yang Bisa Guru Lakukan di Kelas
Berikut lima langkah praktis yang bisa dimulai minggu ini, tanpa menunggu perubahan kebijakan:
1. Kurangi ceramah, perbanyak eksplorasi
Soal PISA tidak menguji hafalan — ia menguji kemampuan menerapkan pengetahuan pada persoalan dunia nyata. Ganti sebagian waktu ceramah dengan diskusi, pemecahan masalah kelompok, dan pertanyaan terbuka. Di matematika misalnya, minta siswa menjelaskan cara mereka menemukan jawaban, bukan sekadar jawaban akhirnya.
2. Perbanyak asesmen formatif
Jangan menunggu ulangan akhir untuk tahu siswa paham atau tidak. Kuis singkat lima menit di akhir pelajaran, exit ticket, atau tanya jawab lisan memberi gambaran cepat siapa yang tertinggal. Umpan balik yang cepat jauh lebih berdampak daripada nilai yang keluar berminggu-minggu kemudian. Pelajari juga pentingnya pengembangan profesional guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
3. Selipkan literasi di setiap mata pelajaran
Literasi bukan monopoli guru Bahasa Indonesia. Guru matematika bisa memakai soal cerita yang menuntut pemahaman bacaan. Guru IPA dan IPS bisa melatih siswa membaca grafik, tabel, dan teks sumber. PISA mengukur literasi lintas konteks — maka latihlah lintas mapel.
4. Bangun budaya membaca 15 menit
Rutinitas kecil yang konsisten mengalahkan program besar yang musiman. Sediakan 15 menit membaca di awal hari dengan bahan bacaan yang beragam — bukan hanya buku pelajaran. Siswa yang terbiasa membaca akan lebih siap menghadapi teks-teks panjang dan kompleks seperti yang diujikan PISA.
5. Gunakan data untuk intervensi dini
Catat perkembangan tiap siswa, bukan hanya nilai akhirnya. Siapa yang selalu tertinggal di soal penalaran? Siapa yang membaik setelah remedial? Data sederhana ini memungkinkan bantuan yang terarah — sebelum masalah menumpuk hingga rapor. Jangan tunggu akhir semester untuk bertindak.
Penutup: Mulai dari Kelas Kita
Skor PISA adalah cermin sistem, bukan vonis untuk guru. Data 2025 menunjukkan Indonesia bergerak — lambat, belum signifikan, tetapi tidak mundur di tengah dunia yang menurun. Tugas kita sekarang adalah memastikan gerakan itu berlanjut, satu kelas dalam satu waktu.
Salah satu penghambat terbesar guru adalah beban administrasi: absensi, jurnal mengajar, rekap nilai, sampai rapor menyita jam-jam yang seharusnya untuk mengajar. Jurnal Guru dirancang untuk meringankan itu semua — administrasi beres dalam hitungan menit, guru kembali fokus pada yang terpenting: siswa di depan kelas. Daftar gratis di sini dan rasakan bedanya.